Selasa, 18 November 2008

DOES IT WRONG BEING A SWING VOTER??

18/11/2008. Jakarta. MetroTV menyelenggarakan dialog mengenai meningkatnya popularitas partai demokrat periode Oktober-November mengungguli 3 partai besar, Golkar (di peringkat 2), PDIP (di peringkat 3) dengan narasumber Ketua LSI Saiful Mudjani dan Ketua Bappilu PDI-P Tjahjo Kumolo. Menurut kedua narasumber tersebut, fenomena ini karena adanya factor swing voters sebanyak lebih dari 40%. Prosentase ini meningkat dibanding tahun 2005 yang sebesar 25%. Menanggapi hal ini, Tjahjo Kumolo mengatakan adanya swing voters ini sangat dipengaruhi oleh iklan-iklan partai yang ada. Menurutnya, swing voters ini mencakup orang-orang yang baru menggunakan hak pilih, orang-orang yang tidak memiliki loyalitas terhadap sebuah partai, serta yang mudah terombang-ambing oleh issue-issue politik, ekonomi dan issue-issue hangat strategis lainnya. Prosentase golongan ini cukup besar di Indonesia. Sedangkan menurut saiful Mudjani, beda halnya di Amerika. “Di Amerika, jika kita bertanya pada seseorang, anda orang partai apa?, maka mereka akan dengan mantap menjawab saya orang partai X” sedangkan orang Indonesia jika ditanya hal seperti itu akan bingung sendiri” tuturnya.

Lantas saya berpikir, am i wrong being a swingvoter? Obviously, bisa dikatakan saya termasuk dalam 40% yang menjadi salah satu penentu partai apa yang akan keluar menjadi pemenang di Pemilu 2009. Namun dalam pandangan saya (meski bertolak belakang dengan 2 narasumber tersebut), saya tak menganggap swing voter sesuatu yang buruk. Kenapa? Karena saya akan tak akan terlalu idealis terhadap suatu partai, yang bukan tak mungkin suatu saat dapat melenceng dari idealisme yang sebelumnya saya dukung. Ends up nya, yang akan tetap saya pegang adalah idealisme saya sendiri untuk memilih partai yang memang benar-benar sesuai dengan hati nurani dan harapan saya sebagai warga negara.

Kamis, 28 Agustus 2008

Panggede Negri Kegandrungan Jadi Artis Mendadak

Kabar hangat yang baru-baru ini muncul di media massa cukup menggelikan. Anton Apriyantono, Menteri Pertanian RI periode ini, sedang terlibat dalam pembuatan film layar lebar berjudul Kasidah Cinta. Konon film ini akan mengangkat cerita tentang seorang tokoh di bidang pertanian yang jatuh cinta pada seorang gadis desa ketika sedang melakukan penyuluhan pertanian di sebuah desa terpencil.


Berita hangat yang dilansir Koran Tempo (28082008) ini mengungkap bahwa menurut sang panggede negeri di bidang cocok tanam ini, adanya film tersebut cukup mengena, selain karena motif tersirat untuk mensosialisasikan signifikansi peran pertanian di negeri ini, tema percintaan yang memang selalu in dikalangan remaja.


Kegandrungan para remaja akan film bertema percintaan seolah memang bukan fenomena baru lagi. Tak ayal demi memenuhi demand pasar, para insan perfilman pun tak segan-segan membuat berbagai ide cerita yang berbau-bau hal tersebut. Mulai dari kisah percintaan orang tua, janda-duda, muda-mudi, sampai kisah percintaan anak sekolah (SMP dan SD) sekalipun telah berhasil diracik tangan2 dingin para sutradara film kawakan negeri ini. Maka, lumrah jika toh sekarang anak2 kecil sudah pandai bersolek, mengikuti trend mode, dan melakukan aktivitas2 yang sewajarnya menjadi santapan orang dewasa. Sebagai contoh, tanyakan pada anak zaman ini, lebih hafal mana mereka menyanyikan lagu2 kebangsaan Indonesia dengan lagu band-band sekelas peterpan, ungu, ada band, dan band-band kawakan lain.


Lucunya lagi, saat ini dunia perfilman tak hanya merangkul entertain2 muda, baru, dan wajah2 segar. Namun para panggede negeri ini juga mulai tertambat mencicipi dunia entertain. Sebelum pembuatan film Kasidah Cinta tersebut, Yusril Ihza Mahendra juga telah menunjukkan eksistensi dirinya di dunia apolitik melalui film CengHo. Perihal ini bagi saya tampaknya cukup menggelikan. Pasca pencabutan jabatannya dari menteri sekretaris negara, seakan tak ingin lepas dari ketenaran, sosok paruh baya ini balik kemudi menjadi artis dadakan. Apa ini yang dimaksud SBY sebagai “peran yang lebih baik bagi negara daripada sekedar menjadi MenSesNeg”? Sungguh ironis jika pernyataan yang diutarakan SBY ketika memutus mandat Yusril sebagai pembantu negara ini memang benar.


Cukup malu rasanya bila saya harus membandingkan dengan negri-negri tetangga. Disaat mereka sibuk memikirkan kemajuan negrinya dengan berbagai keahlian mereka masing2, negeri ini justru makin dilenakan dengan hal2 sepele. Mengapa tak mencurahkan waktu lebih banyak untuk mengurusi permasalahan pertanian yang tak kunjung habis? Sedang disudut negeri sana bergelimang petani-petani Indonesia yang gundah akan nasibnya esok hari,, menanti sebuah kebijakan pemerintah yang berarti.



Bahwa sebuah prestasi telah tercetak dari sektor pertanian memang tak pantas dipandang sebelah mata, yakni tercapainya swasembada beras tahun 2008. Namun, apakah lantas hanya karena ini pemerintah bisa sedikit membekap mulut rakyat dari aksi protes sejenak. TIDAK AKAN! Karena masih banyak permasalahan bangsa menunggu tuk dipecahkan. Dan hanya ini yang dapat saya suarakan, setidaknya sebagai rakyat jelata yang masih peduli akan nasib bangsa ini.

Rabu, 20 Agustus 2008

Gerakan “Pay It Forward”

Pay It Forward adalah sebuah film drama Hollywood yang diproduksi pada tahun 2000. Film yang disutradarai oleh Mimi Leder itu mengisahkan tentang sebuah ide sederhana dari seorang anak kecil berusia 11 tahun, Trevor. Bocah kecil ini hidup bersama ibunya, Arlene, seorang pemabuk dan single parent.

Kisah film tersebut berawal pada saat seorang guru ilmu sosial di sekolah Trevor memberikan sebuah tugas. Sang guru, Mr. Simonet, meminta para murid memikirkan sebuah ide yang dapat mengubah dunia. Para murid juga diminta untuk mewujudkan idenya ke dalam tindakan nyata.

Pada saat itulah Trevor mencetuskan ide Pay It Forward atau bayar dimuka. Inti dari ide Trevor adalah ia hanya perlu menolong tiga orang. Pertolongan itu harus dalam bentuk yang nyata dan tidak bisa dilakukan oleh orang yang akan ditolong itu. Setiap orang yang telah ditolong harus menolong tiga orang lain, begitu seterusnya.

Trevor memutuskan bahwa tiga orang yang akan menjadi bahan eksperimen adalah seorang pemuda gembel pecandu narkoba bernama Jerry, Mr. Simonet yang masih hidup membujang, dan seorang teman sekelas yang selalu diganggu oleh sekelompok anak-anak nakal bernama Adam

Trevor melihat bahwa Ibunya sangat kesepian, tidak punya teman untuk berbagi rasa, telah menjadi pecandu minuman keras. Trevor berusaha menghentikan kecanduan ibunya dengan cara rajin mengosongkan isi botol minuman keras yang ada dirumah mereka, Trevor juga mengatur rencana supaya ibunya bisa berkencan dengan guru sekolah Trevor, Mr Simonet yang memberinya tugas itu.

Ide Trevor mulai berjalan. Jerry dibantu oleh Trevor dengan cara membelikan baju, sepatu dan perlengkapan lain untuk modal bekerja serta meyadarkannya agar tidak terlibat narkoba. Uang itu diambil dari tabungan Trevor. Ketika Jerry berucap tarima casi kepada Trevor, maka Treveor hanya menjawab ‘Pay It Forward”.

Jerry kemudian membantu memperbaiki mobil Ibunya Trevor yang rusak tanpa diminta. Sang ibu melihat perhatian si anak yang begitu besar menjadi terharu, saat sang Ibu mengucapkan terima kasih, Trevor menjawab “Pay It Forward”

Ibu Trevor yang terkesan dengan yang dilakukan Trevor, terdorong untuk meneruskan kebaikan yang telah diterimanya itu dengan pergi ke rumah ibunya (nenek si Trevor), hubungan mereka telah rusak selama bertahun-tahun dan mereka tidak pernah bertegur sapa, kehadiran sang putri untuk meminta maaf dan memperbaiki hubungan diantara mereka membuat nenek Trevor begitu terharu, saat nenek Trevor mengucapkan terima kasih, dan dibalas dengan ucapan: “Pay It Forward

Sang nenek yang begitu bahagia karena putrinya mau memaafkan dan menerima dirinya kembali, meneruskan kebaikan tersebut dengan menolong seorang pemuda yang sedang ketakutan karena dikejar polisi untuk bersembunyi di mobil si nenek, ketika pemuda itu sudah aman, si pemuda mengucapkan terima kasih, si nenek menjawab dengan kata-kata : “Pay It Forward”.

Si pemuda yang terkesan dengan kebaikan si nenek, terdorong meneruskan kebaikan tersebut dengan memberikan nomor antriannya di rumah sakit kepada seorang gadis kecil yang sakit parah untuk lebih dulu mendapatkan perawatan, ayah si gadis kecil begitu berterima kasih kepada si pemuda ini, dan dijawab oleh pemuda itu dengan ucapan : “Pay It Forward”

Ayah si gadis kecil yang ternyata konglomerat terkesan dengan kebaikan si pemuda. Orang kaya itupun terdorong meneruskan kebaikan tersebut dengan memberikan mobilnya kepada seorang wartawan TV yang mobilnya mogok pada saat sedang meliput suatu acara. Saat si wartawan berterima kasih karena mendapat rezeki nomplok berupa mobil Jaguar, ayah si gadis menjawab: “Pay It Forward”

Sang wartawan yang begitu terkesan terhadap kebaikan ayah si gadis bertekad untuk mencari tau dari mana asal muasalnya istilah “Pay It Forward” tersebut. Naluri Jurnalistiknya mendorong dia menelusuri mundur untuk mencari informasi mulai dari ayah si gadis, pemuda yang memberi antrian nomor rumah sakit, nenek yang memberikan melindungi pemuda, Ibunya Trevor yang memaafkan nenek Trevor, sampai kepada si Trevor yang mempunyai ide tersebut. Dengan bantuan sang wartawan, Trevorpun muncul di televisi.

Namun umur Trevor sangat singkat, dia ditusuk pisau saat akan menolong teman sekolahnya, Adam, yang selalu diganggu oleh para berandalan. Selesai pemakaman Trevor, betapa terkejutnya sang ibu melihat ribuan orang tidak henti-hentinya datang dan berkumpul di halaman rumahnya sambil meletakkan bunga dan menyalakan lilin tanda ikut berduka cita terhadap kematian Trevor. Trevor sendiripun sampai akhir hayatnya tidak pernah menyadari dampak yang diberikan kepada banyak orang hanya dengan melakukan kebaikan kepada orang lain.

Menurut saya, walau Trevor meninggal dalam usia yang sangat muda. Itu jauh lebih baik dibandingkan dengan orang tua yang meninggal namun tidak meninggalkan inspirasi apa-apa. Trevor memang pergi terlalu cepat namun ia telah mampu menginspirasi banyak orang dan mampu membuat perubahan yang berarti.

Dengan kondisi Indonesia yang sedang carut marut, angka kemiskinan yang meningkat, pengangguran yang tak pernah berkurang, orang-orang yang bingung memasukan anaknya untuk sekolah karena biaya yang melangit bahkan di beberapa daerah ada yang terkena busung lapar, Gerakan Pay It Forward menurut saya salah saru alternatif yang bisa ditawarkan.

Lakukan gerakan “Pay It Forward” dimulai dari Anda sekarang juga. Hasilnya? Biarkan puluhan ribu orang, karangan bunga, dan generasi berikutnya mengenang Anda ketika nanti saatnya tiba. Dan yang paling penting, Tuhan-pun bangga dengan Anda.

--Jamil Azzaini--

Rabu, 09 Juli 2008

Shiiittt!!

Hmm, sebenernya artikel ini harusnya saya posting dari dulu. Berhubung baru teringat skr, ya okelah, skr coba saya post.

Tepat setelah UAS FEUI semester genap kemarin (sekitar bukan juni), esoknya saya dan kawan saya meluncur ke Semarang untuk menghadiri sebuah acara presentasi dan seminar. Dalam acara presentasi hadir 3 orang pakar, yakni pakar ekonometrika, pakar pertanian dari Badan Ketahanan Pangan Nasional, serta pakar sistematika katul.

Ketika tiba saatnya saya dan kawan saya mempresentasikan buah karya kami, kami begitu bersemangat, meskipun kami merupakan penyaji terakhir kedua sebelum kawan2 dari UGM. Ini bukan karena kesombongan kami karena merupakan satu2nya penyaji yang terbalut almamater kuning, namun lebih karena murni niat kami berdua menyajikan tema yang orisinil dan kami rasa sangat solutif dalam permasalahan pertanian Indonesia.

Hal yang paling kami tunggu kami harapkan akan datang 15 menit setelah penyajian, yakni sesi komentar dewan juri. Secara pribadi saya sangat menantikan feed back dari pakar BKPN sebagai perencana kebijakan2 pertanian Indonesia. Namun tiba saatnya kami mendapati komentar dewan juri, hanya kekecewaan dan rasa tak puas yang kami dapatkan. Bukan masalah tak begitu tertariknya dewan juri akan topik kami, tapi lebih ke masalah kualitas kritik dan opini pakar2 tersebut. Ini kami yakini setelah membandingkan perolehan nilai masing2 penyaji, kami mendapati ketakseimbangan antara nilai dan komentar juri. Setelah kami analisa ulang dan flash back seluruh kejadian nya, kami mendapati bahwa hanya tim kami yang memperoleh kritik yang "irit". Awalnya kami dilemma antara apakah ini karena topik kami yang tidak solutif atau karena juri yang tidak menguasai topik kami (FYI: Topik yang saya sajikan bisa dikatakan masih baru, dan Indonesia dapat dikatakan masih prematur dalam konsep dan teknisnya). Beruntung akhinrnya saya dan kawan saya mendapat feedback yang lebih memuaskan setelah berdiskusi panjang lebar dengan rekan2 UNAIR. Dan dari hasil analisa mereka, terjawablah bahwa dalam hal ini dewan juri lah yang kurang capable dalam menanggapi topik para penyaji, utamanya dalam kasus kami, karena seperti yang saya jelaskan sebelumnya bahwa topik yang saya sajikan masih agak asing di telinga warga Indonesia.

Satu hal lagi yang paling memompa darah tim saya adalah adanya komentar dari salah satu pakar, seperti yang saya kutip berikut : "pertama, saya apresiasi kalian yang berada di pusat, masih memikirkan topik2 yang seperti ini".. Respon yang spontan keluar dari mulut saya hanyalah "Shiit!!!".. Sungguh sindiran yang halus... 1 pertanyaan yang terus berputar di otak saya adalah apakah sedemikian nya UI hingga komunitas2 di daerah memandang UI layaknya sang opportunis yang berlagak berpihak pada rakyat, namun selalu berada di pihak pembuat kebijakan yang tidak populis?!! Sungguh menyakitkan mendapati kaum2 di daerah memiliki pandangan sesempit ini. Harus saya akui memang civitas academica saya lah yang ikut andil merusak bangsa ini, namun tak dapat dipungkiri bahwa civitas saya juga lah yang juga turut membangun negeri tercinta Indonesia ini.

Selasa, 01 Juli 2008

Popularitas Mengungguli Kapasitas

Gong Pemilu telah berakhir 19 Maret 2008. Ini menandakan berakhirnya semua tugas yang diemban baik panitia, dan usaha calon eksekutif FE yang terpaksa tereliminasi dalam penentuan suara Rabu silam. Sekaligus disahkannya Prasetyo Adi sebagai Ketua Senat dan Pengurus Badan Perwakilan Mahasiswa periode 2008.

Di lain pihak, tim dari Kiki harus menanggung kekecewaan yang mendalam. Selain karena persiapan yang telah dipersiapkan matang jauh-jauh hari, namun juga lebih karena visi dan misi2 strategis yang telah digodok dan dipersiapkan secara terperinci harus terlalui

Terlepas dari apapun yang terjadi dengan kedua pihak, sebagai orang awam atau pemerhati politik kampus, masih adakah yang resah terhadap kemajuan FE ke depannya bersama KSM terpilih???

Sebuah pertanyaan intuitif ini tiba-tiba muncul. Boleh dikatakan mulai ada perubahan pola pikir warga FE mulai beberapa periode kepengurusan Senat yang lalu hingga saat ini. Pola pikir warga FE di beberapa periode silam tampaknya lebih lekat dengan suasana politis, dominansi ’kelompok’, dan lebih kritis. Tidak dapat dipersalahkan memang. Namun, hal ini pula yang turut mempengaruhi wawasan dan minat mahasiswa FE akan perpolitikan kampus.

Para pemegang tampuk kekuasaan tinggi di FE periode-periode silam boleh dibilang sangat populer di kalangan mahasiswa, bukan hanya karena mobilitas kegiatan yang membuatnya seperti itu namun juga dikenal dalam segi intelektualitas serta wawasan nya akan pergerakan mahasiswa. Beberapa periode selanjutnya, sosok kepemimpinan tersebut sedikit demi sedikit kian memudar. Pragmatisnya, sosok Ketua Senat itu tidak dibutuhkan figur yang lihai mengandalkan otot saja apalagi skill managerial saja, namun lebih dibutuhkan figur yang mampu berfikir strategis dalam segala hal, dan tentu saja yang terpenting adalah berisi tidaknya pemimpin tersebut. Saya sebut demikian karena pemimpin tersebut lah yang akan membawa nama (entah baik maupun tidak) FE di hadapan eksternal-eksternal kampus FE.

Keresahan ini kian menjadi tatkala menelisik perbedaan selisih suara antara 2 CKSM dalam perhitungan suara 19/3 lalu. Selisih suara yang cukup signifikan tersebut (sekitar 300 suara) harusnya menjadi tanda tanya besar bagi setiap warga FE. Jadi sebenarnya faktor apa yang lebih mengunggulakan satu pihak dan menenggelamkan pihak yang lain dalam pemilu kali ini? Kepopuleran atau keberisian ??

Kita sendiri yang memilih, kita sendiri yang dapat menjawabnya. Dan oleh karenanya kita pulalah yang turut bertanggung jawab atas kemajuan FE ke depannya. Kalaupun kita masih merasa bimbang dan resah akan hal ini, maka sudah sepantasnyalah kita juga turut partisipasi dalam proses perekrutan subordinat-subordinat Pemimipin Badan Eksekutif Mahasiswa kita ke depannya. Fairness sangat diperlukan dalam proses ini. Ini berarti, terlepas dari keterikatan moril seorang calon ketika awal ia akan mencalonkan diri kepada para pendukungnya, pertimbangan awal harusnya lebih pada kapabilitas kandidat tersebut untuk mengisi kursi eksekutif Senat. Keterikatan moril tak perlu dipermasalahkan jika toh syarat tersebut belum terpenuhi. Dan kalaupun masih ada orang diluar sana yang kapable dalam hal ini, kenapa tidak diserahkan ke mekanisme pasar politik FE saja. Dengan demikian, diharapkan akan muncul bibit-bibit unggul yang nantinya akan berkontribusi selama 9 bulan ke depan.

Secara implisit, mata kepala saya telah membuka wawasan saya betapa minimnya wawasan dan antusiasme politik warga FE. Sehingga masih masih sangat dibutuhkan kerja keras dan peran serta semua pihak untuk dapat memback up kepengurusan senat kali ini.

21 Maret 2008 pukul 23.00 WIB

PERLUNYA REFORMASI BIROKRASI DAN REFORMAI STRUKTURAL DALAM APARATUR NEGARA

FYI :

-ada kenaikan 20% anggaran gaji PNS dalam APBN 2008

-2004 gaji PNS : 668.000 untuk golongan 1A (under Regional Minimum Wage)

-2006 gaji PNS : 1.060.000

-2008 gaji PNS : akan dinaikkan dengan gaji terendah 1.500.000

Menurut Taufik Effendi-Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara (PAN) : Jam kerja minimal pegawai dalam seminggu : 37,5 jam

-Banyak pegawai negeri yang berkilah bahwa gaji yang tak seberapa menjadikan mereka melakukan kegiatan lain diluar kepentingan kerja pada saat jam kantor.

Permasalahan :

Apakah kenaikan gaji PNS dapat menjadi injeksi bagi perekonomian atau justru dapat menjadi inefisiensi anggaran APBN?

Di sisi lain pemerintah justru sedikit demi sedikit memangkas anggaran pendidikan hingga tak pernah menyentuh besar anggaran yang direncanakan yakni 20%?

Comment : gaji PNS sudah sebaiknya dibedakan dengan gaji guru—u know why..

So, what do you think about it???

GERAKAN MAHASISWA DIAMBANG KEHANCURAN

July, 1st 2008

Rasanya sudah agak lama saya meninggalkan dunia kritis dan sedikit terkonsentrasi dan disibukkan oleh urusan keluarga saya. Sedikit mundur dari dunia persilatan dan menoleh sedikit ke kepentingan pribadi memang tidak ada salahnya. Tapi tak lama, kerinduan akan mengamati dan menulis tentang berbagai fenomena di negara ini yang meresahkan batin saya, mendorong tangan saya untuk kembali menggerakkan pena saya untuk menulis.

Kabar akhir-akhir ini yang kian meresahkan batin, menggriseni telinga saya adalah mengenai berbagai kerusuhan yang dilakukan mahasiswa dalam kedok demo mahasiswa. Diawali dengan kerusuhan di UNAS, pengrusakan/pembakaran mobil dinas oleh 6 oknum yang masih tercatat dalam DPO, demo kenaikan BBM oleh 35 mahasiswa di depan DPR/MPR, demo mahasiswa UNAS sebagai pembalasan atas kematian rekan2 mereka dalam tragedi UNAS, hingga kerusuhan di Universitas Haluoleo, Kendari. Meskipun nyaris tak pernah turun ke jalan, namun saya tetap sadar akan peran saya sebagai mahasiswa—bagian dari motor penggerak perubahan bangsa ini.

Mengamati berbagai fenomena yang telah saya sebutkan diatas, saya kembali teringat pada pernyataan mantan aktivis KAMMI 1998 dari Jogjakarta pada acara bedah buku ”BULAN SABIT MERAH DI BULAN MEI” yang digelar di FIB. Frontal beliau mengatakan bahwa naif bila ada yang mendikotomikan gerakan politis dan gerakan moral. Alasannya karena menurutnya meskipun awalnya gerakan mahasiswa didorong moralitas, namun ends up nya pasti akan bersentuhan dengan kekuasaan juga. Dulu saya beranggapan bahwa sangat picik sekali orang yang berpikir seperti ini, karena anggapan nya cukup merendahkan mahasiswa, sehingga seolah-olah mahasiswa bergerak karena pamrih. Bukan kepentingan rakyat yang menggerakkan nurani mereka, tapi kekuasaan lah yang menggerakkan tangan dan kaki mereka untuk berjuang atas nama perubahan. Sungguh memalukan!!!!

Namun semakin tua umur bangsa ini, tak makin mendewasakan nya. Perubahan demi perubahan yang diusung para panggede negeri ini saya rasa masih sangat jauh dari tujuan mensejahterakan rakyat. Tak kalah dengan para panggede, pembuat kebijakan, maupun para politisi yang kian hari kian terdominansi opportunisme pribadi maupun golongan, demikian pula yang saya rasa telah terjadi pada gerakan mahasiswa saat ini. Menjelang momentum 10 tahun reformasi kemarin, saya nyaris sangat optimis akan kembali bangkitya gerakan mahasiswa layaknya masa lalu di era reformasi. Romantisme masa lalu memang boleh menjadi pilar penyemangat impian, namun kenyataan tetaplah yang paling menentukan.

Dan demikian halnya dengan kenyataan2 yang saya sebutkan di atas. Semakin saya mengamati berbagai fenomena aksi turun jalan mahasiswa saat ini, agaknya sedikit demi sedikit menggeser pandangan saya tentang makna dan tujuan suci gerakan mahasiswa. Dengan demikian, menurut saya statement dari bung mantan aktivis KAMMI 1998 tersebut memang ada benarnya. Gerakan mahasiswa yang beriring kerusuhan telah berhasil mencoreng muka mahasiswa di depan rakyat yang diperjuangkannya sekalipun. Apa yang diharapkan dari membakar ban mobil dijalanan, merusak mobil dinas pejabat, merobohkan gerbang DPR/MPR, ataupun memblokade jalanan?? Sungguh benar-benar memalukan!! Inilah bukti nyata dimana emosi melebihi kapasitas. Lantas apa bedanya gerakan mahasiswa dengan aksi bentrokan masa, apa bedanya gerakan kaum intelektual dengan gerakan kaum proletar? Dan yang dapat saya katakan saat ini mungkin gerakan mahasiswa diambang kehancuran. Bangsa ini sudah terlalu bobrok untuk dapat ditanggung sendiri oleh elitis negeri ini. Jika mereka yang duduk sebagai pemangku kebijakan itu sudah tak lebih mementingkan urusan perut mereka masing-masng, maka kitalah sebagai mahasiswa yang sepatutnya terus membangunkan mereka yang makin terlarut dalam kelenaan jabatannya.

Namun satu hal yang harus tetap dipengang teguh adalah bahwa sampai kapanpun juga gerakan mahasiswa selayaknya adalah gerakan moral, meskipun tuntutan nya dalam tataran politis. Bila komitmen ini sudah tak lagi bersemayam dalam benak mahasiswa, maka semakin yakinlah kita bahwa gerakan mahasiswa memang benar-benar diambang kehancuran.